Surga

Published September 3, 2015 by difiya3589

Jadi teringat beberapa hari lalu. Ceritanya saya sedang berdiskusi ringan dengan seseorang. Saat itu beliau bilang, kalo suaminya memondokkan anaknya agar anaknya menderita, begitu katanya. Iya, menderita, karena denga menderita dulu akan lebih bersyukur, ya kurang lebih begitu lah. Kita pake jilbab, menderita, emangnya enak pake jilbab, gerah, panas, begitu katanya. (Walau saya ga sepakat dengan statement nya, toh saya bahagia dengan hijab saya insyaAllah, gq merasa menderita).

Sampailah kepada pertanyaan, coba dian, jika si A sama suaminya dian, ganteng mana?, (ya suami saya laah). Masa? Jangan sampe hati sama mulut beda. (Jleb 1). Insya Allah sama, jawab saya. Terus ditanya lagi, dian lebih suka gayanya si B atau
suami dian? Ya suami saya lah. Yakin? Si B mobilnya banyak loh. (So what gitu looh). InsyaAllah saya lebih suka gaya suami saya. Toh banyak mobil belum tentu masuk surga. Emang dian pernah ke surga?.( Ya belom sih, tapi kan kalo taat sama suami insyaAllah balasannya Syurga).

Dan selanjutnya seperti.. seperti.. seperti apa ya rasanya waktu.. pokoknya saya ditausiyahin lah ya. Jangan sombong! Emang pasti masuk syurga?? (Cuma bisa diem..  lagian kan saya ga bilang kalo saya pasti masuk surga, saya cuma bilang, banyak mobil belum tentu masuk surga. -_-‘). Kita tuh jangan ngerasa pasti masuk surga, takabur kita, kita tuh di cuci dulu di neraka. (Asragfirullaaah)

Allah memang punya maksud dari setiap kejadian dalam kehidupan kita. Disatu sisi saya jengkel karena disalahpahami, mbok ya saya cuma mau pilih suami saya kenapa mesti diintimidasi. Terus saya dikira sombong, ngerasa pasti bakal masuk surga (padahal saya kan ga bilang gitu). Hiks hiks.. tapi ada satu sisi yang akan saya ambil hikmah nya.

Pertama, mungkin orang lain akan salah paham dengan apa yang kita maksud, kalo kata pak suami, frekuensinya ga sama, jadi ga nyambung.Ya begitupun kita hidup, ada orang orang yang sefrekuensi dengan kita, kadang ga pake ngomong aja, cuma denfan bahasa isyarat kita bisa saling ngerti. Itu yang saya alami dengan sahabat dan orang terdekat saya. Kedua, mungkin emang teguran Allah, astagfirullaah…hamba mohon ampun ya Allah, kalo dalam hati terbersit rasa sombong sekecil apapun, kadang merasa lebih baik dari si A, merasa amalan lebih banyak dari si B, merasa lebih ini dan itu, padahaaal, belum tentu dimata Allah apa apa yang kita kerjakan Allah terima, dan berbuah syurga, toh kita juga masuk surga bukan karena amal kita, tapi karena sayangnya Allah sama hamba hamba nya.

Hamba berlindunga kepadaMu ya Rabb dari godaan syaithan, atas sifat sombong yang bahkan kadang cuma melintas.. jauhkan kami dari sifat iblis tersebut ta Allaah. Sifat yang menyebabkan iblis terusir dari Surga.

Advertisements

5 comments on “Surga

  • Aku menemui banyak orang yang ‘tidak sefrekuensi’ di dunia kerja dan S2 sekarang. Terbiasa dengan dunia ‘Sains’ yang dipenuhi orang-orang sefrekuensi kemudian masuk ke dunia ‘sosial’ yang bahkan di hari kedua kuliah sudah menemukan dosen yang pemikirannya membuatku merinding keheranan. Btw kita sefrekuensi kan Kak? hehe ^^

  • Sefrekuansi ini semacam kesamaan yang sulit didapat dalam bekerja sama dengan orang di ranah apapun berkontribusi. Tapi sekalinya dapat rekan atau lingkungan yang sefrekuensi menurut saya jadi bisa meningkat daya hidup kita…kontribusi pun jadi maksimal, entah organisasi ataupun kerja

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: