Guru

Published August 27, 2015 by difiya3589

Kali ini saya mau share tentang kisah yang menurut saya sangat inspiratif. Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang bincang dengan seorang guru SM3T, namanya pak Riswan berasal dari makasar. Oiya SM3T itu kepanjangan dari Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Ini adalah program dr kementrian pendidikan, untuk memberikn beasiswa PPG ( program profesi guru), tapi mereka harus mengabdi di daerah 3T itu.

Mas Riswan ini di tempatkan di papua, tepatnya di raja ampat. Ketika mendengar raja ampat, saya langsung berdecak, wiiih..enak dong disana sambil jalan jalan?indah banget ya disana??enak ya travelling while teaching. Dan pertanyaan2 lain yang mengesankan bahwa sangat enak mendapat penempatan di raja ampat.

Tapiii..ternyata oh ternyata. Menurut cerita mas riswan, untuk mencapai daerah tempat dia mengajar, dia harus naik pesawat sampai kota sorong. Kemudian naik kapal sekitar 5 jam untuk sampai ke kabupaten raja ampat, daaan 18 jam menuju pulau tempat dia mengajar, daaaan itu hanya bisa menggunakan perahu kayu berpenumpang maksimal 6-7 orang dan ketika naik itu pandangan kita hanya bisa kedepan. Fiuuh..bayangin nya aja kaki saya udah pegel duluan, masyaAllaah.

Kebayang kan, perjuangannya, how reach that place. Nah..disana ada sebuah sekolah, dimana pada satu atap sekolah itu ada sd, smp dan sma. Disana hanya ada 2 guru dan 1 kepala sekolah, beruntung mas riswan, satu orang dari toraja, satu lagi dari manado.jadi mas riswan feels like home karena ketemu orang satu kampung sesama jong celebes. Usia muridnya juga bukan anak anak saja, ada muridnya mas riswan ini kepala desa kelas 3 smp. Konon kepala desa ini mau ikut sekolah karena persyaratan menjadi kepala desa minimal pendidikannya adalah smp daaan beliau ga mau digantikan jadi kepala desa, mungkin ingin jadi kades seumur hidup, hehehe.

Disana, guru itu sangat dihormati, bahkan pada awal2 dipanggilnya tuan guru. Oiya di papua itu kan ada OPM ya, organisasi papua merdeka, naaah..kalo polisi atau tentara tertangkap opm pilihannya hanya satu, dibunuh!. Tapi kalo guru yang tertangkap, pilihannya mau tetap mengajar di papua atau dipulangkan ke kota asal. MasyaAllah ya, sebegitu dihargai para guru disana. Bahkan katanya kalo ada bencana atau konflik antar suku, guru ini yang diamankan terlebih dahulu.

Kalo urusan daily needs disana mah gampang aja kalo mau maka, tinggal ambil aja ikan di laut, oiya raja ampat itu terdiri dari ribuan pulau, dan yg berpenghuni hanya 26, salah satunya pulau yang dihuni maa riswan ini, yang besarnya hanya seukuran sekolah sma di jakarta, pulau tikus namanya. Untuk makan nasi, mereka menunggu perahu yg datang membawa beras dan kebutuhan lainnya. Kalo tak ada beras? Meraka makan pisang! Yap pisang, bahkan makan sop kepala ikan itu pasangannya dengan pisang, bukan nasi. Unik ya.

Untuk urusan gadget, jangan harap bisa upload foto selfie di fesbuk, twitter atau path. Sinyal hape aja ga ada, bahkan listrik itu juga belum ada, hanya ada genset yang menyala jam 6-8 malam. Setelah itu gelap gulita mengandalkan sinar bulan. Biaya untuk genset juga sangat mahal, karena menggunakan minyak yg harga perliternya bisa sampai 25 ribu. Mas riswan itu satu satunya muslim di pulau itu, jadi selama setahun disana, dia hanya 2 kali shalat jumat, itu pun ketika libur semester dan saat dia berada di  kabupaten.

Disana guru dituntut harus kreatif, bagaimana mengajar dengan segala keterbatasan. Tapi kok ada yang mau ya disana? Peserta SM3T ini hanya dibayar 2,5 juta looh. Rasa rasanya kalo dibandingkan dengan perjuangannya disana, materi segitu ga seberapa ya. Semoga Allah membalas kebaikan mereka.  Etapi etapi, ada yang buat saya nelen ludah, kalo kepala sekolah mah seneng, uang BOS turun bisa ratusan juta, mau beli perlengkapan ini itu susah, terbatas, jadi sometimes uangnya itu ya buat kepala sekolah bangun rumah di kota Sorong. Begitu penuturannya.

Ketika saya bercerita ke suami, ingin rasanya mengabdi ke pelosok bumi pertiwi, kebetulan suami ini engineer, dan ketika saya tanya, bisa ga yah “bikin” listrik disana?. “Ada angin?”.”ada, kan pantai”. Bisa lah asal ada dana buat beli segala keperluan masang listriknya. Pengen gitu yah, ngabdi disana. Dan pak suami langsung bilang, kuat ga disana?ntar nangis2 melulu, ke muara gembong aja ga kuat, hahahha.

Semoga para guru yang mengabdikan dirinya untuk berbagi ilmu di seluruh pelosok negeri ini, Allah berkahi kehidupannya di dunia dan di akhirat. Dan ternyata benar, ketika melihat guru guru ini, baru kusadaru bahwa guru itu memang pahlawan tanpa tanda Jasa.

Advertisements

3 comments on “Guru

  • MasyaAllah kak Diaan, perjuangan bapak gurunyaa sampai ke pelosok, mengharukan. Ah, semoga Allah ganjar dengan jariyah ya.

    Akan lebih indah lagi sepertinya kalau di pelosok itu, kita bisa mengenalkan indahnya islam. Berharap ada di antara penduduk sana yang kelak dapat memeluk hidayah dari Allah..

    • Iyaaah..masya Allah yang neng eza.. aku juga berpikir yang sama, aku sampe nanya, mereka pada ngikutin pak riswan shalat ga?. Kadang mereka tidak memeluk islam karena memang tidak ada yang mengenalkan islam kepada mereka bukan karena mereka tidak mau.(selain faktor hidayah Allah yaa)

      • Iya bener ya kak, mereka hanya belum tau islam itu seperti apa, Allah itu siapa. Andai mereka tahu.. T_T maka semoga para guru juga menjadi perantara hidayah. Bukan hanya di pelosok, namun jg semua guru yang mengajar di kota pun. Kita ajarkan murid-murid dengan keteladanan yang baik ya kak.

        Selamat mengajar..

        Salam untuk Ayyesha kak! ❤

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: