Archives

All posts for the month November, 2014

Ibu septi dan ketiga anaknya

Published November 4, 2014 by difiya3589

Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya
anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi
anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri
di usia yang masih sangat muda. Saya cuma berdecak
gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?

Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kita search nama
ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal
sebagai Kartini masa kini. Beliau seorang ibu rumah
tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga
seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di
Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita
Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya.
Beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang
mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya
anti mainstream.

It’s like watching 3 Idiots. But this is not
a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.

Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah.
Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan
adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah
itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi
sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang
bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang.

Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut.
Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang
mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya.
Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah
tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau
tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah
tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.

Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik.
Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua
gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat
diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan
mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah
nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah
mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan.
Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan
sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus
untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar
almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan
mereka adalah khusnul khatimah. Sampai di sini, sudah
kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga
yang keren?

Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak
hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik
anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam
parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan
anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua
sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak
yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan
sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah
alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow,
anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah
bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan
keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak
marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul
adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak
melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus
punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun. Dan
hasilnya?

Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan,
punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh
penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat
ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi
S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah.
Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal
menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi.
Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat
minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan
menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah.
Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih
menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak
untuk membiayai kuliahnya.

Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa
hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi.
Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi
pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi.
Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW!
Sepuluh tahun gue masih ngapain?
Dan setelah kemarin
kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura
menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia.
Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-
anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri
dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari
investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya
yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20 Banyak
juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?”
hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa
rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:

1. Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap
demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
2. Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek
nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang
tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah
diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan.
Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu
tentang project tersebut.
3. Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana
mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka
saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa?
Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga
punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu
adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan
mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang
disebut dengan “false celebration”.
4. Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul
diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di
usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan
ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia
ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin
pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai
anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal
hebat.
5. Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya
gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap
kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka
akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it,
share it, do it, grow it!
6. Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu,
bukan untuk mencari nilai
7. Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan
sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan
membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia
dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
8. Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara
home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari
buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar
yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar
hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke
perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan
magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka
magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi,
apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting,
mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan
pemimpin    atau seorang yang ahli setiap hari
selama magang.
9. Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah
keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri.
That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta
belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
10. Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya
adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
11. Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama.
Ibu bertindak sebagai ibu, partner, teman, guru, semuanya.
Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa
kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah
online tentang keiburumahtanggaan di ibuprofesional.com.
Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi
yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal
terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu
Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga.
Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang
berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya
mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya.
Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga
harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi
paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran
bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala
yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh
please, housewife is the most presticious career for a
woman, right? Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap
pilihan punya konsekuensi. Jadi apapun kita, semoga tetap
menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Dari kisah di atas, saya juga menarik kesimpulan bahwa
seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang
organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa
dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk
bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini.
Bukankah dari keluarga karakter anak itu terbentuk?
Wallahualambisshawab. Semoga ada yang bisa diambil
pelajaran.

Dinukil dari mbak Himsa di http://www.azaleav.wordpress.com

Advertisements